Kamis, 04 April 2013

MULIAKAN SELALU PARA GURU

Sikap tunduk murid kepada guru merupakan keuliaan dan kehormatan banginya.

Ilmu amat tinggi kedudukannya di dalam Islam. Demikian pula mereka yang mengajarkan dan menyebarkannya. Tak sedikit orang pandai, namun banyak yang lupa kepada guru yang sudah mengajarkannya, seolah-olah kepandaian dan kekayaan ilmunya menjadi dengan sendirinya tanpa sentuhan dan do'a para guru, "Islam sangat menganjurkan agar umatnya menghormati para ulama dan guru-guru mereka," jelas ketua Pelaksana Majelis Azzikra, Ustaz Abdul Syukur Yusuf, kepada republika(selasa, 23/3). 


Dia mengatakan Syekh az-Zarnuji dalam kitab ta'lim Muta'allim menjelaskan bagaimana cara menghormati guru, di antaranya tidak boleh berjalan di depan gurunya, tidak duduk di tempat yang diduduki gurunya, bila dihadapan gurunya tidak memulai pembicaraan kecuali atas izinnya.
"Ini hanya contoh, tidak mutlak seperti itu," jelasnya. Banyak cara menunjukan kecintaan atau penghormatan kepada guru.

Yang paling penting, menurutnya adalah rendah diri. Murid harus berendah diri atau tawaddu. Ilmu tidak akan dapat diperoleh secara sempurna kecuali dengan diiringi sifat tawaddu murid terhadap gurunya. Keridhaan guru terhadap murid akan membantu proses penyerapan ilmu. Tawaddu murid terhadap guru merupakan cermin ketinggian sifat mulia si murid. Sikap tunduk murid kepada guru merupakan kemuliaan dan kehormatan baginya.

Perilaku para sahabat, yang memperoleh pendidikan langsung dari Rasulullah SAW, patut dijadikan contoh. Ibnu Abbas, sahabat mulia yang amat dekat dengan Rasulullah mempersilahkan Zaid bin Tsabit untuk naik di atas kendaraannya, sedangkan ia sendiri yang menuntunnya, "Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ulama kami,: ucap Ibnu Abbas.

Para generasi salaf sangat hormat terhadap ulama mereka. Terhadap Said bin Musayyib, fakih tabi'in, orang-orang tidak akan bertanya sesuatu kepadany kecuali meminta izin terlebih dahulu, seperti layaknya seseorang yang sedang berhadapan dengan khalifah.
Pengasuh pondok pesantren, Denanyar, Jombang Jawa Timur, HK Aziz Masyhuri meminta agar para pencari ilmu menghormati guru mereka. Guru adalah perantara utama tersalurkannya ilmu. Tunaikan hak-hak mereka, jaga etika bertanya. Adab bertanya kepada guru penting diperhatian. Mengajukan pertanyaan kepada guru hendaknya tidak dimaksudkan untuk mengusili atau mengerjai sang guru, "ini sangat tidak etis," katanya

Termasuk adab dan penghormatan terhadap guru. ungkapnya. ialah menutupi menutupi aib. Laksanakan perintah guru, selama ia tidak bertentangan dengan rambu-rambu yang digarikan oleh Allah SWT. Ia menukilkan kisah dari Imam Syafi'i
Konon, pendiri Mazhab Syafi'i itu sangat hormat terhadap para guruya. Satu di antaranya ialah Imam Malik. Dikisahkan, pencetus Mazhab Syafi'i itu selalu berhati-hati membuka lembaran kitab jika berada di depan sang guru, Imam Malik. "Aku tidak ingin membuat terusik dengan gesekan kertas," kata Imam Syafi'i
disalin dari harian republik,jumat, 28 Maret 2013/16 Jumadil Awal 1434.

Rabu, 03 April 2013

PENTINGNYA ETIKA SELAMA BELAJAR

Jangan kira ilmu itu berdiri sendiri, selama Penciptanya tak dihadapi dengan etika


Syekh Aiman Sami menulis risalah sederhana. Sebuah catatan yang ia tujukan untuk para pencari ilmu. Kumpulan pesan ringkas namun padat itu ia tulis dengan tajuk "Risalah ila Thalib al-ilmi". Tugas yang diemban oleh para pencari ilmu sangat mulia dan terhormat. Dengan ilmu yang diperoleh pada hakikatnya akan mengantarkan mereka terhadap pengakuan yang kuat atas eksistensi Allah SWT.

"Allah menyatakan habwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah). Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah) Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." qs.ali imran (3):18.

Dengan ilmu yang diperoleh, derajat mereka akan terangkat. Ini seperti ditegaskan di surah az-zumar ayat 9 dan mujadilah ayat 11. Para malaikat pun, seperti tertuang di hadis riwayat Abu ad-Darda, akan memberikan restu dan pertolongan bagi para pencari ilmu.

Ali bin Abi Thalib RA pernah berbagi petuah bijak pada Kamil bin Ziyad. Menantu Rasulullah tersebut menegaskan kepada Kamil. Ingatlah bahwa ilmu itu lebih berhaga dari harta. Ilmu akan menjagamu, sementara engkau menjaga harta itu. Ilmu akan berkuasa, padahal harta sering engkau kuasai. Dan harta akan berkurang dengan dibelanjakan, sementara ilmu makin bertambah jika sering disalurkan (diajakan kepada orang lain)

Namun kini, sebut syekh Aiman, ada spirit yang nampak hilang dari para pencari ilmu. Di dunia pendidikan, roh itu kian tersingkir ditengah gegap gempita materialisme. Menuntut ilmu hanya dianggap ritual biasa. Berangkat ke sekolah, belajar, menelaah pelajaran, lalu kembali ke rumah untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru di sekolah. Begitu setiap hari.

Aktivitas itu kian hampa nilai. Padahal menuntut ilmu adalah risalah yang luar biasa. Terkadang nilai yang sangat berharga. Belajar tak sekedar membaca dan mentarnsfer ilmu. Menimba ilmu adalah misi universal untuk segenap alam semesta dan Sang Pencipta.

Persoalan paling krusial, ungkapnya, menukil pernyataan Abdullah ibn al-Mubarok, yaitu perihal ketidaksesuaian antara ilmu yang diperoleh  dan praktek. Ibn al-Mubarak pernah bercerita, suatu ketika, ia mencari ilmu lalu mendapatkan potongan kecil darinya, tetapi ketika ia hendak menelusuri etika, ternyata sedikit sekali yang berhias dengan adab. "Nyaris punah sama sekali," katanya, tokoh terkemuka generasi salaf itu.
Kesesuaian antara ilmu dan amal adalah hal mutlak yang penting digarisbawahi oleh para pencari ilmu.

Syekh Aiman menengarai, serangkaian etika menuntut ilmu tak lagi diperhatikan. Adab paling utama yang terlupakan itu ialah pentingnya penekanan niat. Orientasi mencari ilmu mesti dilandasi atas semangat ibadah dan mengabdian untuk-Nya. Sekolah ataupun kuliah bukan cuma diniati untuk mendapat pekerjaan. Terkadang, memang pragmatisme hidup mendorong tak sedikit kalangan pendek pikiran.

Segala sesuatu itu tergantung niat, titah Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Umar bin Khattab, Membersihkan niatan duniawi memang tidak mudah. Perlu usaha keras dari yang bersangkutan. Tetapi, ini akan sebanding dengan hasil yang akan dicapai. Dua kebajikan sekaligus akan dicapai, bila niat belajar diikhlaskan untuk-Nya, yakni kebaikan beribadah dan ganjaan mencari ilmu."Tak ada yang lebih sulit bagiku ketimbang meluuruskan niat," ujar tokoh generasi salaf, Sufyanats-Tsauri.

Siap dengan segala keterbatasan. Terbatas ongkos dan uang jajan, misalnya. Seorang pencari ilmu idealnya terbiasa hidup prihatin. Tidak bergaya hidup mewah. Berapa pun bekal materi yang ia kantongi, hendaknya dipergunakan secukupnya. Justru, mereka yang berkecukupan biaya dan ongkos faktanya kerap kesulitan menerima ilmu. Murid-murid berprestasi malahan banyak bermunculan dari keluarga yang sederhana, bahkan serba kekurangan. "Ilmu hanya akan diraih berkat sabar dan keprihatinan." petuah inisiator Mazhab Maliki, Imam Malik.

Hormatilah guru. Guru adalah perantara utama tersalurkannya ilmu. Tunaikan hak-hak mrreka. Jaga etika bertanya, hindari mengumbar kekurangannya, dan taati perintah selama dalam kebajikan dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Imam Syafi'i mencontohkan bagaimana bersikap terhadap guru, seperti yang ditunjukkannya dihadapan Imam Malik. Konon, pencentus Mazhab Syafi'i itu selalu berhati-hati membuka lembaran kitab jika berada di depan sang guru, Imam Malik. "Aku tidak ingin membuatnya terusik dengan gesekan kerta," kata syafi'i

Maksimalkan waktu yang dimiliki sebaik mungkin untuk eksplorasi ilmu. Tidak menyia-nyiakan waktu untuk aktivitas yang kurang atau bahkan tidak bermanfaat sama sekali. Tengok ke sekeliling Anda. Sepulang sekolah atau tidak jarang saat jam pelajaran, banyak pelajar nongkrong tidak karuan dipinggir jalan atau dipusat-pusat perbelanjaan. Bagi generasi salaf, tak sedikit pun waktu disia-siakan. Ar-Rabi' pernah bertutur bagaimana komitmen Imam Syafi'i saat mencari ilmu. "Tak pernah aku pergoki Imam Syafi'i makan di siang hari dan tidur lelap kala matahari menghilang." tutur ar-Rabi'.
disalin kembali dari harian republika kamis, 28 maret 2013/16 Jumadil Awal 1434 H 

SALING MENASIHATI SESAMA KITA

Nabi bersabda: "Malaikat Jibril selalu memberitahuku 7 hal setiap kali menyampaikan firman Allah sehingga 7 hal tersebut kuanggap sangat penting atau hampir wajib"
- berbuat baik pada tetangga, jangan sekali-kali menceraikan istri (rawatlah wanita secara baik), jangan terlalu keras dengan budak atau buruh, jangan lupa bersiwak (membersihakan mulut) sholat 2 rakaat dengan bersiwak lebih besar pahalanya daripada sholat 70 rakaat tanpa bersiwak terlebih dulu, jangan lupa shalat berjamaah Nabi beranggapan bahwa shalat tidak sah jika tidak berjamaah, selalu shalat malam, selalu berzikir kepada Allah, tidak bermanfaat suatu pembicaraan jika tidak dibarengi dengan dzikir(ingat) kepada Allah.

Nabi bersabda:"Allah menyukai seseorang orang karena 3 perkara,"-Orang yang punya kekuatan/kekuasaan yang digunakan untuk taat kepada Alalah, misalnya waktu kita masih sehat, memiliki waktu luang sebaiknya dimanfaatkan untuk beribadah. - Orang yang menangis dan menyesal setelah berbuat maksiat. - Orang yang sabar ketika miskin orang miskin itu memiliki 3 perhiasan : tidak minta-minta(bekerja sendiri), syukur saat mendapat nikmat, sabar saat tertimpa musibah. Nabi mengatakan : Bingkisan yang paling berharga bagi orang mukmin adalah fakir, orang fakir yang sabar akan masuk syurga dengan lebih mudah dan ketika di syurga akan bersanding dengan Nabi besar Muhammad SAW.

Nabi bersabda : "Nanti di hari kiamat Allah tidak akan melihat (kasihan) terhadap 7 orang(golongan). Mereka akan dimasukan ke neraka." - Orang yang suka sesama jenis seperti kaum Nabi Luth, - Orang yang menikah dengan tangannya sendiri-berbuat sendiri untuk mendapat kepuasan, - Orang yang mengumpulkan kuda, - Orang yang mengumpulkan istrinya lewat jalan belakang, - Orang yang mengumpuli anaknya sendiri, - Orang yang mengumpulkan istri orang lain, - Orang yang menyakiti tetangganya.

Nabi bersabda: " Aku melaknat terhadap 6 golongan."- Orang yang menambah-nambah kitab Allah, - Orang yang tidak percaya terhadap kepastian Allah, - Raja/penguasa yang berbuat sewenang-wenang yang slah dibuat benar, yang benar disalahkan atau mengangkat orang yang dicela Allah (korupsi dan kolusi), - Orang yang menghalalkan barang di tanah Haram (Mekah),- Orang yang menghalalkan yang diharamkan  oleh Allah, - Orang yang berpaling dari jalannya Nabi Muhammad SAW.

Minggu, 31 Maret 2013

KETIKA DURHAKA MELANDA

Lemahnya sendi agama dalam keluarga dapat memicu durhaka anak
     Seorang sastrawan terkemuka di masa Dinasti Abbasiyah, al-Ashma'i, pernah bertutur tentang seorang pemuda yang durhaka terhadap ayahnya. Kejadian itu terjadi saat Khalifah Abdul Malik bin Marwan berkuasa. Sang anak yang berjuluk Munazil itu konon adalah sosok yang kerap melawan terhadap orang tua.
Tingkah lakunya pun sering menyakitkan keduanya, Hingga, sang ayah berkisah dalam sebuah puisi, salah satu baitnya berbunyi: "Tali rahim antara aku dan dia ternoda, kala dia mencampakkanku." Berita tentang kedurhakaan sang anak pun terdengar di telinga pemerintah.
     Gubernur setempat memerintahkan agar Munazil ditangkap lalu akhirnya bebas. Tapi Allah SWT berkehndak lain. Kejadian itu terulang terhadap dirinya saat ia menjadi orang tua. Setelah beberapa tahun dikisahkan, Munazil diperlakukan tak manusiawi oleh anaknya sendiri.
     Ia terpaksa membawa ember yang dikalungkan di lehernya. Semestara, di leher itu terikat seutas tali yang digunakan sang anak untuk memukul Munazil. Saat sang anak ditanya perihal perbuatannya itu, ia menjawab "Biarlah, dia pantas menerima akibat ia durhaka pula pada kakekku." katanya
     Durhaka kepada kedua orang tua (uquq al-walidain), menurut Syekh Muhammad Ibrahim al-Hamad dalam bukunya yang berjudul Uquq al-Walidain, asbabuhu, Mazhahiruhu, Subul al-Ilaj), merupakan tindakan tercela. Rasulullah SAW di banyak sabdanya melarang dan mengecam tindakan ini. Durhaka adalah salah satu dosa besar. Oleh karena itu, seperti ditegaskan dalam riwayat Bukhari, hindarilah.
     Konsekuensi yang bakal diterima oleh anak durhaka sangat banyak. Anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya terancam tidak akan masuk surga. Ini seperti tertuang di hadis riwayat Umar bin Khattab. Pendurhaka orang tua juga divonis terhalang dari nikmat melihat Allah SWT. Penegasan itu tertuang di riwayat Abdullah bin Umar.
     Dalam kasus Munazil di atas, perlakuan serupa bisa terbalik kepadanya kelak lantaran doa kuat seorang tua yang terzalimi oleh anak durhaka. Doa orang tua yang dizalimi masuk dalam kategori doa yang mustajab. Kekuatan doa orang tua itu tercatat di hadis riwayat Abu Hurairah.
     Ia mengatakan, manivestasi durhaka terhadap orang tua sangat banyak. Ini bisa berjuwud, antara lain dengan membuat sedih mereka akibat tingkah laku anak yang menyimpang. seperti sikap kasar dan berontak. Berkata "uf" saja, sebagaimana ditegaskan surah al-isra' ayat ke-23 tidak boleh, apalagi melawan keduanya.
     Terlebih, membuat air mata keduanya terurai. Tanda-tanda durhaka, antara lain, bersikap masam, menatap keduanya dengan raut wajah marah atau sinar mata yang tajam penuh benci, memerintah keduanya layaknya seorang pembantu, menyepelekan nasihat, atau tidak mengakui hubungan kerahiman dengan keduanya, entah karena malu ataupun gengsi. "termasuk durhaka pula, jika menitipkan mereka ke panti jompo karena sebab yang tak kuat.
     Banyak sekali bentuk durhaka yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Paling parah, bila sang anak mengaharapkan kematian keduanya atau salah satu dari mereka agar segara  mewarisi harta warisan atau karena alasan sakit dan kemiskinan yang mengimpit."Jangan sampai hal itu terjadi." katanya mewanti-wanti.
      Durhaka, ungkapnya, timbul karena beberapa faktor. Diantaranya paling mendasar adalah ketidaktahuan akan dampak dan dosa yang diakibatkan durhaka. Ini bisa dipicu oleh pola pendidikan yang salah dalam keluarga. Pendidikan yang ideal dalm keluarga adalah pengokohan pondasi agama. Sebab, berikutnya ialah hilangnya keteladanan orang tua, pengalaman durhaka oleh orang tua sendiri, dan perceraian.
     Ini solusinya, sebut Syekh Muhammad, mengembalikan sendi-sendi keluarga yang telah rapuh. Ciptakan suasana Islami dalam keluarga. Keteladanan yang kuat dari orang tua dan terapkan pendidikan Islam kepada anak-anak.
Jangan semberono mendidikan anak." tulisnya mengingatkan.
Tulisan ini disalin dari harian republika, jumat, 22 Maret 2013/10 Jumadil awal 1434H oleh nashih nashrullah, dialog jumat "tuntunan" 

TENTANG KEKUATAN DO'A

     Sebuah hadis riwayat dari Ibnu Majah dan Ibnu Hibban mengisahkan suatu saat seorang lelaki dari Bani Salamah mendatangi Rasulullah SAW. Lelaki itu bertanya, apakah ia masih memiliki kesempatan untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya yang telah tiada. Rasul menjelaskan, berbaktu kepada keduanya tak terbatas waktu, selama hayat masih di kandung badan, seorang anak bisa berbaktu kepada bapak dan ibunya. Bakti itu bisa berupa mendoakan keduanya, meminta ampun, menyambung silaturahim kerabat-kerabatnya, serta memuliakan teman-temannya.

   Karena itulah, kata Ketua Majelis As Shalihin, Ustaz Muhammad Saleh Hasan, tidak ada pemberhentian akhir untuk pengabdian kepada kedua orang tua selama anak masih hidup. Meskipun keduanya sudah meninggal dunia, anak tetap harus berbuat baik untuk keduanya. Perbuatan baik bisa berupa amal saleh ataupun mendoakan keduanya sepanjang hayat. "Namanya anak, harus terus berbuat baik untuk kedua orang tua." ujarnya kepada republika, rabu(20/3).
    Menurutnya birrul walidain tidak mengenal masa. Selama orang tua masih hidup, anak diharuskan menjaga ayah dan ibunya. Apa yang keduanya butuhkan hendaknya dipenuhi oleh anak-anaknya. Banyak bentuk bakti kepada orang tua saat mereka masih  hidup, di antaranya dengan mengunjunginya, tidak menyakitinya dengan kata-kata dan perbuatan. Anak selalu mendoakannya dan berkewajiban memberikan nafkah atau memberikan jaminan fasilitas kehidupan bila keduanya termasuk katagori fakir miskin.
    Ada dua syarat kewajiban anak dalam memberi nafkah kepada kedua orang tua. Pertama, bila orang tuanya  termasuk katagori  fakir miskin. Kedua, jika anak memiliki kelapangan rezeki dan berkemampuan dalam memberikan nafkah tersebut. Jadi ketika seorang anak memiliki kemampuan finasial yang memadai dan orang tuanya termasuk kategori fakir miskin, dia wajib memberikan nafkah kepada kedua orang tuanya. Nafkah yang diberikan kepada orang tuanya adalah sebuah kewajiban.
   Jika keduanya sudah meninggal, anak bisa tetap berbuat baik untuk orang tuanya. Anak bisa mendoakan dan memohonkan ampun, melaksanakan pesan-pesannya, menjaga tali persaudaraan atau silaturhim dengan keluarga ayah atau ibunya, dan berbuat baik kepada teman-temannya.
   Rasulullah pernah bersabda, dari Abdullah bin Abbas RA bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada ditemapt, lalu ia datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk bertanya. "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya?" Rasul menjawab. "Ya" Saad berkata: "Saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya." (HR. Muslim)
    Menurutnya, pahala menjadi hak orang yang beramal. Jika dia menghadiahkan kepada orang tuanya atau saudaranya yang muslim, hal itu tidak ada halangan sebagaimana tidak dilarang menghadiahkan harta untuk orang lain diwaktu hidupnya dan membebaskan utang setelah wafatnya. Allah memberikan banyak peluang untuk berbuat baik kepada orang tua atau saudara Muslim lainnya walaupun mereka sudah meninggal dunia.
     Wakil pimpinan Pondok Pesantren Baitul Arqom, Jember-Jawa timur, KH Izzat Fahd, menyatakan anak harus mematuhi apa pun yang diperintahkan kedua orang tua. Namun, jika orang tua memerintahkan kemaksiatan, anak harus menolaknya dengan bijaksana."Tetapi tidak boleh menghardik atau mengeluarkan kata-kata kotor kepada keduanya," papar Izzat
     Dia menyatakan hal seperti ini adalah fakta bahwa etika di dalam Islam sangat diperhatikan. Dalam hal bersikap kepada orang tua pun diatur dalam ajaran agama. "Ini bentuk Islam sebagai agama yang sempurna," ujar Izzat menjelaskan.
Tulisan ini disalin dari harian republika, jumat, 22 Maret 2013/10 Jumadil Awal 1434 H. oleh Erdy Nasrul, dialog jumat, laporan utama       

Kamis, 28 Maret 2013

PANTI JOMPO, APA HUKUMNYA ?

Kala orang tua tak lagi muda. Dan, senja menghampiri usianya. Maka, saat itu pulalah ketulusan sang anak diuji. Islam menegaskan kewajiban merawat keduanya tak terbatas oleh waktu. Munculnya konsep Barat tentang jaminan sosial oleh pemerintah melalui kehadiran panti-panti jompo mengundang polemik di negara-negara di kawasan Timur Tengah. Salah satuny adi Qatar.
     Di negara yang sekarang dikepalai oleh Emir Hamad bin Khalifah at-Thani itu, keberadaan panti jompo mengundang respon yang beragam. Mayoritas pendapat menolak optimaalisasi panti tersebut. Cendikiawan Muslim, Syekh Ali bin Salim bin Bathi, mengemukakan para ulama sepakat tak boleh mengandalkan panti.
     Tak adan pembenaran untuk mendorong optimalisasi panti jompo. Dukungan terhadap aktivitas itu malah bisa memicu sikap durhaka anak kepada orang tuanya. Hendaknya anak dan keluarga lebih peduli terhadap orang tua yang berjasa membesarkan mereka. Padanya pekerjaan bukan alasan tepat untuk menitipkan mereka ke panti.
     Pakar fiqih di Kementerian Wakaf Qatar, Syekh Abdullah al-Faqih, berpendapat, mendirikan panti jompo hukumnya fardhu kifayah, kewajiban itu gugur selama terpenuhi oleh pihak tertentu, pemerintah, misalnya. Bahkan, dalam kondisi tertentu bisa berubah wajib. Ini lantaran tak sedikit orang tua yang terlantar. Pada saat yang sama, mereka tidak memiliki satu pun keluarga yang peduli lagi. Keberadaan panti jompo itu seyogianya menampung dan memberikan penghidupan yang layak bagi lansia itu.
     Namun, pengasuh rubrik fatwa dalam situs Alarab itu menegaskan akan sangat tidak etis dan tercela bila seorang anak atau keluarga "membuang" orang tua ataupun kerabatnya yang telah uzur usia ke panti-panti penampungan tertentu. Padahal, keluarga yang bersangkutan sanggup mengurusnya."Sangat tidak manusiawi." tegasnya.
    Akal sehat pun, sebut Syekh Abdullah, tak bisa menerima perlakuan anak yang menitipkan orang tua kandungnya ke panti jompo, sementara anak itu berkemampuan dan berkecukupan secara materi. Bayangkan, kedua orang tuanya telah mengasuh dan membesarkannya tanpa pamrih, lewat beragam masa dan rintangannya, memeras otak dan keringat mengantarkan anaknya kegerbang kesuksesan."Ketika jaya justeru dicampakkan, "ketusnya.
    Inilah, mengapa Islam sangat menekankan pentingnya perlakuan baik terhadap kedua orang tua atau kerabat pada usia senja. Tuntutan ini seperti yang ditegaskan antara lain pada surah al-Israa' ayat 23, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya." Ia menyatakan menitipkan orang tua ke panti tanpa sebab yang kuat adalah bentuk durhaka kepada keduanya.
      Persoalan penempatan orang tua di panti jompo ini sebenarnya pernah pula mengemuka pada sidang ke-12 Komite Fikih Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang berlangsung di Riyad, Arab Saudi pada 2000. Organisasi yang kini dipimpin oleh Ekmeleddin Ihsanoglu itu menetapkan sejumlah keputusan sekaligus rekomendasi penting terkait bagaimana memperlakukan orang tua lanjut usia.
     Organisasi yang beranggotakan 57 negara Muslim atau berpupulasi mayoritas Islam itu mengeluarkan penegasan bahwa kewajiban anak adalah mengurus kedua orang tua hingga akhir hayat. Ini merupakan wujud pengabdian dan terima kasih terhadap jasa tak ternilai mereka.
     Selain surat al-Isra' ayat ke-23 tersebut, ada pula ayat lain yang mempertegas kewajiban itu. Misalnya dalam surah yang sama ayat ke-70, tiap manusia berhak atas perlakuan yang bermartabat dan terhormat. Ini karena pada hakikatnya, seorang manusia itu sangat dimuliakan oleh-Nya."Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam."
    Menurut organisasi yang berdiri di Rabat, Maroko, pada 1969 ini, tempat yang paling pantas untuk merawat orang tua pada usia senja mereka adalah keluarga. Keberadaan orang tua di keluarga akan memberikan rasa nyaman dan aman. Dengan demikian, mereka akan turut pula merasakan kebahagiaan yang dialami keluarga besarnya.
     Jika tak memungkinkan mengurus orang tua di rumah karena alasan yang sah menurut syariat, seperti sikap kasar atau durhaka sanga anak, atau kemiskinan akut yang dialami anak, maka boleh menitipkan orang tua ke panti jompo. Tetapi, hendaknya panti yang dimaksud itu terjamin kualitas pelayanannya. Bila tidak maka tak boleh mengarahkan orang tua ke panti jompo.
Tulisan ini disalin dari Harian republika, jumat 22 maret 2013/10 Jumadil Awal 1434 H. oleh Nashih Nashrullah. dialog jumat "fatwa"     

Kamis, 21 Maret 2013

DEKAT DENGAN TEKNOLOGI, DEKAT DENGAN AL-QURAN

Orang berpuasa karena Al-quran berkata agar manusia berpuasa. Al-quran menggerakan manusia dan banyak sekali meminta manusia bergerak. Awalnya memang hanya aset. Tetapi dengan al-quran, manusia menjadi kapital. Alangkah banyaknya ayat-ayat dalam al-quran yang menggerakan manusia. Namun, persoalannya, apakah manusia tergerak atau tidak ? Hal ini merupakan persoalan iman. Bila manusia percaya, dia akan tergerak lantaran Al-quran menyeru dan kitab ini berseru hanya kepada orang-orang yang beriman semata.
Lalu, apa hubungan antara Al-quran dengan teknologi informasi ? Gadget seperti telepon seluler dan perangkat musik portabel, merupakan produk dari teknologi informasi. Sebagaimana teknologi lainnya. Gadget bermata dua, yaitu : mengandung aspek manfaat, tetapi juga berbahaya bila tidak digunakan segaimana mestinya.
Seorang muslim yang diberi kelebihan gadget, seharusnya di dalamnya terdapat aplikasi Al-quran. Bagaimanapun juga, apabila al-quran dekat dengan manusia dan mampu menggerakannya, memeliharanya dan menjaganya, akan senantiasa ingat dengan segala konsekeunsi tindakanya. Misalnya, para mahasiswa, pelajar yang tergoda untuk mencontek, bila dia menjadi basis datanya, maka mereka akan ingat bahwa Allah menyediakan neraka wail bagi manusia yang berlaku curang, sebaliknya bila mereka beramal shaleh, mereka akan ingat dengan wahyu Allah,"Wahai orang-orang yang beriman, bila kau membelanjakan hartamu, jangan kau sebut-sebut. Karena nilainya akan menjadi nol." 
Al-quran adalah satu-satunya mukjizat yang pernah eksis ditengah-tengah manusia dan kemanusiaan. Al-quran adalah sebuah wahyu dari Allah yang menyebabkan manusia hidup. Al-quran merupakan energi yang tersembunyi dan dapat membuat kita bangkit dan sanggup untuk datang ke masjid. Untuk itu, jangan pernah menyia-nyiakan panggilan Al-qur'an.
Kini, teknologi telah banyak di sekitar kita, khususnya teknologi informasi. Apabila dulu Al-quran berbentuk buku dan harus dibaca Namun, dengan adanya teknologi informasi, Al-quran berbentuk digital dan bisa didengarkan. Sekarang, tergantung kita untuk menggunakan teknologi informasi yang hadir tiba-tiba.
Dalam perspektif ini, teknologi informasi dapat dipandang sebagai sebuah berkah. Misalnya saja ketika naik angkot. Daripada merenung tak karuan, lebih baik mendengarkannya Al-quran yang telah terpasang di gadget. Setidaknya, dalam setengah jam, ada beberapa ayat yang diingat. Selain itu, sebuah kebaikan telah terbuka di hadapan kita dengan mendengarkannya Al-quran. Tidak hanya menggunakan gadget, ketika menggunakan komputer pun, tak ada salahnya bila mendengarkan al-quran.
Al-quran mengawal hidup manusia apabila dia beriman. Manusia akan memiliki keinginan untuk  disebut sebagai orang beriman dan pasti tergerak dengan penggilan dan seruan al-quran.
Ramadhan kali ini, seharusnya bisa dijadikan tonggak awal kesadaran kita terhadap al-quran. Bagaimanapun juga, mereka yang tidak senang dengan Islam dan sejarah, tahu persis cara untuk membunuh umat Islam, yaitu menjauhkannya dari Al-quran. Begitu umat Islam kehilangan al-quran, mereka akan kehilangan identitasnya sebagai muslim. Bagaimanapun juga, identitas seorang muslim ada di dalam al-quran.
Semoga, Al-quran benar-benar wahyu dari Allah untuk kita sebagai umat manusia. Kita memerlukan al-quran agar mampu merubah diri menjadi sebuah kapital. Untuk bisa mewariskan Indonesia esok lebih baik dari hari ini. Agar ketika kita pulang nanti, rasul berkenan menjadi saksi bahwa kita adalah umatnya. Akan celaka bila rasul tidak berkenan menjadi saksi bahwa kita adalah umatnya. Padahal, syaratnya cukup sederhana, yaitu kita cukup menjadi saksi bagi umat lainnya dengan beriman kepada Al-quran, dan kita akan mampu menebarkan rahmat.
Kita tidak mungkin tergerak bila kita tidak dekat dengan al-quran. Kita harus dekat dan mengusahakan agar tiada hari tanpa bibir mengucapkan Asma Allah. Bagaimana pun, Al-quran adalah kalamullah. Tak heran, ada yang mengatakan jika manusia yang bibirnya senantiasa mengucapkan kalam Allah, itu adalah "keluarga" Allah karena dia telah menjaga Kallam Allah.
Bagi mereka yang belum bisa membaca Al-quran, jadikanlah ramadhan kali ini untuk mulai belajar membaca Al-quran. Bagi yang tabungan baca Al-qurannya belum banyak, jadikanlah ramadhan kali ini sebagai awal. Bagaimana pun, tak ada kata terlambat untuk memulai. Baca, pahami, perjuangkan agar dia menjadi bagian dari hidup kita. Maka hidup kita akan tergerak untuk kebajikan, Hanya dengan seperti itu, Indonesia esok akan lebih baik.
Semoga kita bisa menjadi bagian dari usaha untuk menyelesaikan masalah besar yang dihadapi negara ini. Kita semua punya kemampuan untuk itu. Kita hanya perlu hal yang dapat menggerakan diri kita dari dalam, dan Al-quran mampu melakukannya.
Tak hanya itu. Dengan kita dikawal oleh al-quran, manusia jadi terpelihara. Dengan begitu, kita tidak akan pernah takut untuk menghadapi teknologi. Meskipun memiliki aspek negatif dan bisa membawa kemudharatan, tetapi dengan al-quran seorang muslim tidak akan pernah takut. Bahkan, seorang muslim selalu bisa melihat manfaat teknolgi. Contohnya, dengan kehadiran gadget al-quran bisa dibawa kemana-mana.
Kita harus mencoba merubah pandangan-pandangan yang tidak benar dan tidak baik menjadi kebiasaan baru berbasis al-quran. Sehingga kita mampu menggunakan teknologi semaksimal mungkin untuk hal yang baik.
 Ramdahan selanjutnya, bila kita masih ada dan diizinkan ada, setidaknya kita bisa menambah hafalan al-quran kita minimal stengah juz. bagaimana pun, dengan kita dekat al-quran, kita bisa mengucapkan do'a.
Semoga al-quran yang ada di dalam kepala kita, menemani dan menjadi pelindung kita di alam kubur nanti. pada ramadhan ini, marilah kita jadikan awal baru komitmen kita terhadap al-quran. Gunakan teknologi infomasi semaksimal mungkin. Semoga Allah memberikan bimbingan dan  kekuatan untuk kita membangun kebiasaan baru yang akrab dengan Al-quran dan memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin.
Tulisan ini disalin kembali dari ceramah ramadhan 2011 dimasjid Salman ITB-Bandung